Selasa, 13 Maret 2012

LEONITA DWIYAN ERAWATI GUNAWAN

HATI BERBUNGA-BUNGA 
BERADA DALAM DUA DUNIA

Tatkala berjumpa dengan Leonita Dwiyan Erawati Gunawan, Ekspresi sempat menduga ia seorang modeling. Namun dugaan tersebut ternyata meleset. Sebab, setelah dikorek lagi, gadis yang memiliki tinggi 170 cm dan berat badan 54 kg itu sesungguhnya adalah, mantan paskibraka putri Kabupaten Jembrana tahun 2009. Sementara pengalaman sebagai modeling nyaris tak pernah ia kecap.

Kendati demikian, Leonita mengaku tak pernah menepis argumen dari siapa pun terhadap dirinya pada pandangan pertama. Yang terpenting bagi pelajar kelas XII IPS 2 SMA Ngurah Rai ini adalah tetap mampu menunjukkan jati diri dengan kepribadian yang luhur. “Ramah tamah, sopan dan santun, serta murah senyum. Rasanya begitu saja sudah cukup untuk mengawali perjumpaan. Kalau disangka modeling, ya syukuri. Kalau disangka yang jelek-jelek, wuah alangkah baiknya tak usah ditangggapi berlebihan ya,”ujar dara kelahiran Negara, 14 Agustus 1994 di senja yang basah oleh hujan dengan senyuman yang menggoda.

Lembabnya kota Negara saat itu tak jua melunturkan aura cantik putri kedua dari sejoli I Kade Indragunawan dan Ni Putu Dian Eka Erawati. Keanggunan, keindahan matanya, serta senyumnya pun meyakinkan bahwa ia juga seorang penari berbakat. Terbukti ia pernah tampil membawakan tari kreasi baru dalam PKB ( Pesta Kesenian Bali) XXVII tahun 2005. Selain tari kreasi kreasi, ia juga menguasai tari Sekar Jagat, Tari Rejang, Tari Cendrawasih, dan tari Bali lainnya.

“Terjun dalam dunia tari dan paskibraka itu sama-sama menantang. Selama mencoba mengeksplor diri dalam dua dunia itu, saya telah mendapat kesempatan berjabat tangan dengan para pejabat atau pemimpin daerah Jembrana dalam beberapa acara istimewa. Padahal tak pernah saya mimpikan sebelumnya.  Jadi, tak ada hal yang sia-sia. Bakat seni tari tersalurkan dan pengalaman baru selama paskibraka pun membuat hati saya berbunga-bunga,”kenang alumni SMPN 3 Negara sembari tersenyum simpul untuk kesekian kalinya. Emagz / Yuli Astari


RATNA DWIJAYANTI

BANGGA SAMBUT MENTERI 
 
Ratna Dwijayanti merasakan hidupnya penuh hoki. Dari berbagai kegiatan yang dilakukannya semua menunjukkan prestasi bagus. Diakuinya keberhasilan yang ia raih saat ini berkat usaha dan doa. Ia tak mau takabur atau besar kepala dengan raihan yang telah dicapai. Namun ia rasakan kompetisi ke depan baik dalam karier dan kehidupan masih membentang. Keberhasilan saat ini hanyalah pengingat untuk senantiasa berbuat maksimal dalam setiap kesempatan.

Pemilik nama Ni Made Ratna Dwijayanti ini, terakhir sangat beruntung terpilih sebagai Putri Jembrana tahun 2010 lalu. Dia yang menjadi putri Jembrana berkesempatan menjadi ratu untuk menyambut kedatangan Menteri Pariwisata Jero Wacik saat Parade Budaya Nusantara serangkaian HUT Kota Negara, Bali. Penampilannnya kala itu penuh pesona, mengundang ribuan mata untuk menatapnya lekat-lekat. Gadis asal Sangkaragung ini mengenakan pepayasan agung ciri khas pengantin adat Bali. Dia berdiri di atas sebuah wahana berwujud lambang kehormatan Kota Negara yang diarak sepanjang jalan di Kawasan Kantor Bupati Jembrana. Ratna laiknya sang putri benar-benar menakjubkan. 

Selain menyandang Putri Jembrana, alumnus SMKN 1 Negara pun dinobatkan sebagai wanita karir dari salah satu majalah fashion bergengsi.Sekaligus pula , ia dilibatkan sebagai salah satu model pemotretan di majalah tersebut belakangan ini.´Aku diberikan penghargaan tersebut secara tiba-tiba saja dari manajer majalah itu dalam rangka peringatan Hari Kartini beberapa bulan lalu. Dan itu cukup mengagetkan buatku. Aku memang ikut serta dalam ajang di segala bidangseeperti nari, lah raga dan fashion saat itu. Mungkin dilihat dari situ kali ya hingga aku mendapat penghargaan sebagai wanita karir,” terang peraih juara pertama olah raga sepak takraw pada ajang Porda 2007 dan juara pertama fashion show bertema fantastis Kreatif ini. Namun dari semua itu, Putri pasangan Ni Ketut Meni Antari dan I Ketut Suana ini mengaku sangat berkesan ketika mendapat kesempatan menyambut kedatangan sang menteri. Emagz / Yuli Astari


INGGI INDRAYANA KENDRAN

MIMPI DUTA ANAK INDONESIA

I Nyoman Inggi Indrayana Kendran merasa bangga ketika dinobatkan sebagai Duta Anak Indonesia perwakilan Bali pada Juni 2011 lalu. Inggi yang memegang komisi pendidikan telah sukses menumbangkan 35 musuhnya yang terjaring dari sembilan kabupaten/kodya di Bali dan menduduki posisi 10 besar. Sayangnya, tatkala beradu di tingkat nasional dalam ajang yang diselenggarakan oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) yang digelar di Bandung, rupanya nasib kurang beruntung harus diterima Inggi dengan lapang dada. Kendati demikian, spirit putra bungsu dari pasangan I Nyoman Kendra dan Ni Luh Putu Eka Yanti tetap terpacu untuk merealisasikan mimpi-mimpi sebagai duta anak Indonesia.

“Sebagai duta anak Indonesia, saya juga dihimbau untuk menghimpun sekaligus menyuarakan aspirasi anak terutama dalam bidang pendidikan lewat Forum Anak Daerah (FAD). Saya ingin sekali menghimpun anak-anak Jembrana untuk peduli terhadap anak-anak Jembrana. Belum lama ini, saya sudah mencoba mengajukan program ke lembaga pemberdayaan perempuan di Jembrana yang masih ada kaitannya dengan anak Indonesia, namun tak semudah yang saya bayangkan. Walaupun dikatakan belum ada dana, tapi saya tetap berusaha memperjuangkan jalan keluarnya agar program bisa jalan,”terang sekretais OSIS besutan SMAN 1 Negara yang berdomisili di Kelurahan Pendem, Jembrana, Bali ini.

Selain pintar dan kritis, Inggi juga memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Kreatif dalam bidang seni lukis terutama tentang kesenian dan budaya menghantarkannya menjadi sang jawara dalam Porseni 2011 di Jembrana. Ia juga aktif dalam beberapa organisasi baik di internal maupun eksternal sekolah. Dengan berorganisasilah, siswa peraih juara umum di SMPN 1 Negara mengaku semakin mendapatkan karakter diri sebagai kepribadian yang fleksibel dan sosialis .

“Ya, karena dengan berorganisasi juga tonggak awal saya di dalam memantapkan diri untuk mencoba menjajal ajang pemilihan Duta Anak Indonesia. Yah, walaupun pulang dengan tangan hampa, setidaknya saya punya pengalaman berharga di tingkat nasional,” ungkap lelaki berusia 17 tahun ini dengan senyum simpulnya yang menghiasi senja di taman Pecangakan kota Negara. Emagz / Yuli Astari

ANGGRAYNI EKA PUTRI TRESNA BUNGA


Foto : Koleksi Pribadi
JATUH HATI PADA MUSIK JAZZ 


Suatu ketika, Anggrayni Eka Putri Tresna Bunga digaet oleh penggiat seni musik, penyair, sekaligus budayawan asal Jembrana. Oleh Nanoq Da Kansas dalam penciptaan sebuah karya seni musik Jegog Jazz. Anggi pun menikmati pentas di Bentara Budaya Bali Ketewel tahun 2010 lalu. Dalam garapan olah musik tersebut, Anggi menjadi vokalisnya. Di panggung Bentara Budaya Bali, Jrgog Jazz tampil bak sebuah karya seni spektakuler.

 ‘Awalnya, saya  memang belum tahu seperti apa itu Jegog Jazz. Setelah mencobanya ternyata proses penggarapannya  cukup sulit. Menyanyi pun juga perlu latian super bahkan menghabiskan waktu hingga malam. Penuh tantangan, tapi asyik juga dan enjoy membawakan lagu berjudul Every breat you take, Aku Hanya di Sini, Pelangi Hitam Putih, Serasa, dan Senja di Batas Kota,” paparnya.

Alumnus SMP N 1 Negara juga mencatat beberapa prestasi dalam dunia olah vokal. Siswi yang tinggal di Desa Baluk ini mengaku sempat meraih juara harapan pertama vokal grup di tingkat Provinsi Bali. Dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) juga meraih juara harapan pertama bersama vokal grupnya pula. Dalam pekan apresiasi sastra dan teater (PAST) Jembrana 2011, grup musikalisasi Sola Gracia SMAN 1 Negara, Anggi yang menjadi vokalisnya meraih tiga besar vokalis se-Bali.

Apa yang diraup Anggi tidaklah terlepas dari doa, usaha, iman, dan takwa. Apalagi jika dilakukan seirama dengan hati. Maka tidak heran jika penyuka musik Jazz ini juga selalu merasakan kenyamanan dan ketenangan manakala ia menyanyi. Putri pasangan Adam Iskandar Bunga dan Meyke B. Budiman juga berharap melalui bakat seninya dapat mengharumkan namanya di kancah dunia kelak. Untuk itu, selagi bisa, fans berat Michael Jackson dan Agnez Monica ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk unjuk diri pada Pesta Kesenian Bali XXXIII sebagai penyanyi solo, duet, dan trio. Emagz / Yuli Astari

ARIEF TANAYA BRTV

INGIN SEPERTI BRIPTU NORMAN

“Tidak ingin menjadi yang lain, pokokne sing kene sing keto, kelak  aku  harus bisa menjadi seorang polisi yang profesional,”curhat Arief Tanaya, jebolan penyanyi berbakat pencari bakat BRTV. Jawaban itu pula telah berkali-kali diungkapkan pria dewasa berparas menawan ini  kepada siapa saja yang hendak bertanya dengan maksud senada.  Maka tidaklah salah jika  Arief Tanaya, mantan bintang BRTV Bali 2009 ini, dinilai oleh teman-teman sebayanya  sebagai sosok yang  memiliki kepribadian bak air di daun talas, tetap konsisten pada ucapannya. Tetapi tunggu dulu, benarkah  ia yakin dengan pilihannya itu?

“Kenapa tidak. Saya yakin sekali dengan pilihan saya,”jawabnya tanpa ragu lewat via sms. Lalu ketika ditanya lagi,”Masihkah sibuk dengan aktivitas menyanyi ?” Tiba-tiba jawaban yang tidak disangka ia layangkan lewat udara lagi,”Saya sudah stop menyanyi, karena sudah capek. Sekarang saya sedang sedikit sibuk menggemukkan badan. Bodi saya semasih SMA itu ternyata belum ideal untuk ukuran seorang akpol (akademi kepolisian), maka dari itu saya jeda dulu aktivitas nyanyi. Saya memilih  lebih fokus dengan cita-cita saya. Mohon doanya ya. Hehehe..,”tuturnya lagi.

Mendengar alasan Arief yang mengatakan bahwa dirinya akan istirahat sejenak dari dunia seni olah vokal hanya demi keseriusannya mengejar impian untuk menjadi bagian dari akademisi kepolisian itu kiranya sangatlah disayangkan. Berbeda sekali dengan perjalanan kisah sukses sang pencipta karya video lipsync ala India yang tengah tenar seantero dan masih menjadi sorotan hangat negeri ini. Jika Briptu Norman Kamaru sedang mengalami masa peralihan dari anggota kepolisian menuju dunia entertainment, yang  meski dengan keputusannya tetap pada jabatan sebagai Briptu, maka Arief justru kebalikannya. Arief Tanaya yang lihai menyanyikan lagu pop Bali, lagu-lagu anak negeri, dan sebagainya ini justru tengah mempersiapkan segalanya untuk masuk pada akademi kepolisian. Hanya saja, Arief dan Briptu Norman itu sama-sama memiliki talenta pada bidang seni tarik suara. Namun apa  boleh buat, nampaknya peraih juara ke tujuh sebagai duta Bali dalam audisi Indonesian Idol 2009  ini benar-benar tidak main api dengan pilihannya itu. Emagz / Yuli Astari




Senin, 12 Maret 2012

BHIRAWA ANORAGA

IKUTI JEJAK ORANG TUA 
Setiap insan pendidikan memiliki kesempatan untuk menempuh studi pada sekolah yang lokasinya berjenjang, mulai dari daerah lokal bahkan hingga ke luar kota. Namun kesempatan itu kiranya tinggallah mimpi apabila tanpa didukung penuh dengan kekuatan tekad. Tekad mengais ilmu di kota besar atau menjajal dunia luar tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Seperti yang dialami sebagian pelajar asal Jembrana, salah satu diantaranya adalah mahasiswa President University bernama Bhirawa Anoraga alias Aga. 

Akan tetapi, sebesar apapun ujian yang dihadapi di kota metropolitan nampaknya enjoy saja dibahu pemuda asal Banjar Tengah, Negara ini. Barangkali prestasi yang sempat dikantongi Aga juga mempengaruhi rasa percaya dirinya dalam misi meraih bintang, sehingga Aga tampak tetap rileks bersaing dengan jutaan pelajar sekelas di kota yang baru diselaminya. Kabarnya setelah nama Aga melejit di jajaran siswa berprestasi tingkat Provinsi Bali tahun 2006 yang merupakan duta dari SMP N 1 Negara, Jembrana, beberapa tahun silam, prestasinya justru semakin membumbung tatkala ia menjadi bagian dari keluarga besar SMAN 4 Denpasar. Mau tahu apa saja prestasi bergengsi yang pernah diraihnya? 

Pelajar yang memiliki IQ Superior ini ternyata meraih prestasi yang tak tanggung-tanggung. Setelah pernah mebarung dalam ajang perekrutan IJSO SMP tingkat international tahun 2006 yang diselenggarakan di Jakarta itu membuatnya harus bersyukur karena disedot lagi dalam misi pertukaran pelajar ke Singapura pada 2008 silam. Di samping itu, ia juga merupakan peraih juara 3 dalam kompetisi Matematika dan Statistika tingkat Propinsi Bali yang digelar di Universitas Udayana beberapa tahun silam. 

Lebih lanjut cerita soal masa depan remaja kelahiran 5 Mei 1992. Dulu, ia pernah bercita-cita menjadi seorang arsitek dan mencoba menguji kemampuannya dengan mengikut tes penerimaan mahasiswa di dua universitas yakni di Bandung dan Jakarta. Namun oleh karena ayahnya Ir. H. Setyo Irianto adalah seorang pengusaha tambak ikan Bandeng dan Udang di Pejarakan Buleleng, maka Aga memantapkan pilihannya untuk menjadi generasi penerus ayahnya. Itu terbukti saat ini ia tengah fokus pada studinya pada jurusan managemen di President University. Selain berjalan mulus, anak sulung dari Ir. Hj Dini Setiadini ini ternyata mendapat bonus berupa beasiswa dari kampusnya sehingga kuliahnya pun terasa lebih enteng. 

 “Syukur saya digratiskan dari biaya kuliah itu. Jadi tidak perlu cemas. Tinggal fokus pada studi aja dan tentu saja mulai belajar dan mencari wawasan tentang bagaimana caranya memanajemen perusahaan. Saya lebih banyak baca buku tentang bisnis sekarang karena tekad saya sudah bulat, saya akan meneruskan perusahaan ayah. Doakan saja ya,”kelakarnya. Emagz / Yuli Astari

LIBRIANTIKA OKTAVIANI GUNAWAN

BUKA LES TARI 
Tak habis-habisnya sosok-sosok yang anggun menghiasi dunia seni tari. Salah satunya seperti dara cantik bernama Libriantika Oktaviani Gunawan. Dalam dunia seni tari kiprah alumni Smansa Negara yang satu ini bukanlah sekadar isapan jempol semata. 

Sejenak bila kita cermati bersama, banyak penari berbakat dari almamaternya yang memiliki peluang besar, bahkan hingga diterbangkan ke Negeri Sakura. Kendati remaja yang akrab dipanggil Tika belum pernah mengekor dalam misi pertukaran seni budaya tersebut, namun lesatan perjuangan untuk mempertahankan jati diri sebagai pragina sejati urung redup. 

Tak banyak orang tahu, tepatnya setahun yang lalu sebelum tamat sekolah, Gek Tika sempat melahirkan ide kreatif yang jarang bisa dilakukan para penari remaja yang notabene masih duduk dibangku sekolah. Akan tetapi, dengan dukungan penuh dari orang tuanya, maka sebuah les tari yang diusung secara swadaya pun sempat dibuka penyandang juara tiga Tari Kreasi Baru ‘Gohra Darma Yudha’ pada Pesta Kesenian Bali ke XXV, di rumahnya di bilangan Jalan Yudistira, Banjar Tengah, Jembrana, Bali. 

“Buka les tari sejak aku kelas 3 SMA. Ngajar tari sendirian. Tekad ada atas kemauan sendiri dan restu orang tuaku pula. Aku buka les atas aspirasi para tetangga. Mereka kepengen banget kalau anak-anak mereka diajari menari, berhubung saat ini sekolah mendesak muridnya agar bisa nari dengan baik. Ketika dibuka, langsung dah dibuatin plang “les tari” di depan rumah itu. Dibelikan vcd pluss kaset juga. Sampai garage mobil bapak pun saya manfaatkan juga. Di antara 15 orang anak tetangga ada yang saya ajari tari Tamulilingan, Puspanjali, Cendrawasih dan Sekar Jagat. Tentu saja jenis tarian aku pilah berdasarkan usia dan kemampuan mereka. Aku seneng banget deh pokoknya, serasa jadi guru tari di sekolahan,”curhat peraih juara pertama tari Kidang Kencana tingkat Provinsi beberapa tahun silam ini, belum lama ini. 

Ia menambahkan bahwa kepuasan bathin yang didapat jauh lebih berarti dibandingkan hasil yang dikantongi remaja berusia 18 tahun ini selama ngajar tari secara swadaya. Ia yang sering melibatkan diri dalam event Budaya Nusantara di Bumi Makepung, mengaku dapat mengumpulkan Rp 3.000,00 per kepala dalam satu kali les. Ia juga merasa semakin terhibur bersama anak-anak yang gabung les. Mulai dari kalangan yang belum sekolah hingga yang sudah berstatus murid SMP. Tak hanya itu, nama Gek Tika pun merembet populer di lingkungan warga sekitarnya.

Sementara itu, Gek Tika menyadari bahwa hobi hanyalah sebagai pelengkap dari sebuah cita-cita. Kesadaran ini pulalah yang menghantarkan putri sulung Kade Indra Gunawan dan Putu Dian Eka Erawati melangkah untuk menggapai mimpi menjadi seorang hakim. Sayangnya, karena saat ini ia tengah fokus menjalani studi jurusan hukum di UNUD, maka kegiatan les pun terpaksa dijeda untuk sementara waktu.

“Sebenarnya berat hati harus absen lama ngajar tari. Sejak itu pula adik-adik yang ikut les tari justru tambah kangen belajar menari bareng lagi. Tapi karena aku lama tinggal di Denpasar, yah mau gimana lagi. Tapi, aku sudah bilang kok sama mereka kalau aku pulang ke Negara nanti dalam waktu yang cukup lama, aku selalu siap ngajar mereka menari lagi tanpa harus dibayar deh alias gratis,”kelakar gadis yang hobi nari sejak usia dini. Emagz / yuli astari

Jumat, 09 Maret 2012

WINDA YUDIARI

Biola, Tengkorak, dan Boneka Bangkitkan Rasa Percaya Diri “Hidup ini mengalir. Maka aku pun mengalir di dalamnya. Aku tidak suka cara berpikir yang rumit, tetapi yang alamiah saja.,” demikian Inda di sebuah sore dalam obrolan di dunia maya, di akun facebook. Dalam dunia nyata, kehadiran dara bernama lengkap Winda Yudiari ini barangkali bisa diibaratkan seperti angin di hamparan sawah. Terkadang lembut sekali, tetapi kadangkala terasa mendesir dan mampu meciptakan sederetan gelombang di pucuk-pucuk padi. “Sungguh menyenangkan rasanya membuat kehebohan-kehebohan kecil bersama teman-teman di sekolah. Hari-hari jadi terasa lebih berwarna,” tuturnya tentang keseharian yang dilakoninya di sekolah. Siang itu, berbaluk dress kuning, Winda sedang duduk bersama kedua orang tuanya. Wajahnya sedikit pucat karena beberapa hari terakhir terkena demam. Tetapi demam sungguh tidak mampu memudarkan senyum penyuka boneka, biola dan tengkorak ini. “Biola, tengkorak, dan boneka adalah benda-benda yang mampu membangkitkan rasa percaya diriku. Ketiga benda itu sama-sama membuat aku lebih pe-de dalam bergaul. Mungkin karena aku juga bisa memainkan biola dan drum, jadi gampang kenal sama orang. Soal boneka, ke sekolah dan les pun aku bawa boneka. Aku suka memainkan biola dengan nada-nada lembut dan keras. Lembut kayak boneka dan keras kayak tengkorak. Jadi semua itu seimbang dalam hidupku,” tuturnya. Walau dengan rendah hati mengaku belum terlalu mahir dalam bermain biola, namun pengakuan orang-orang atas eksistensi Inda adalah sebuah jawaban. Putri tunggal Yudiningsih dan Subiyantoro ini pernah mengisi biola dalam sebuah kolaborasi dengan kesenian jegog SMPN 4 Negara dalam sebuah pegelaran yang diselenggarakan BPRI Jembrana. Dari penampilannya dalam pagelaran itu, ia pun sering mendapat tawaran untuk pentas bersama. Ditanya kenapa memilih biola daripada alat musik lain, dara cantik kelahiran 23 April 1992 ini mengatakan ingin sedikit berbeda dari remaja sebayanya. ”Memang saat ini kebanyakan remaja memilih gitar, drum, organ atau piano. Tapi aku sudah kecantol dengan biola. Bermain biola juga tidak terlalu susah bagiku. Makanya aku lebih mantap dengan biola, karena aku ingin beda dari orang lain. Inilah diriku,” ujarnya dengan rasa percaya diri. Inda pun yakin bahwa suatu saat nanti kepopuleran biola akan sejajar dengan alat musik lainnya terutama di kalangan remaja di Jembrana. Tapi itu perlu banyak waktu dan keseriusan para remaja untuk mengenal alat musik tersebut. “Saya harap biola bisa merambah di tengah-tengah kesibukan para remaja Jembrana saat ini. Dan saya yakin pula, biola pastinya akan lebih disukai remaja jika mereka sudah mengenalnya lebih jauh, apalagi memainkannya dengan serius.” demikian dara yang kini bergabung dalam sanggar musik Melodya di Jembrana ini.Bali Bicara / Yuli Astari

Kamis, 08 Maret 2012

AA MADE ARIANTINI SURYANI




SISWI TELADAN PENGGEMAR BRIDGE DAN BULU TANGKIS

Lebih mudah mencari daripada mempertahankan.

Pomeo di atas berlaku untuk setiap aspek kehidupan. Demikian pula halnya dalam dunia pendidikan. Perjuangan mencari predikat juara dapat dikatakan lebih mudah daripada perjuangan untuk mempertahankan prestasi itu sendiri secara terus-menerus.

Maka apa yang dilakukan oleh siswi manis bernama Anak Agung Ayu Made Arianti Suryani ini, dapatlah dikatakan istimewa. Siswi yang akrab disapa Gung Gek ini telah mampu mempertahankan predikatnya sebagai juara pertama berturut-turut dari kelas satu hingga kelas enam, di SD N 5 Pendem.

Namun atas prestasinya ini, Gung Gek tidaklah lantas menjadi sombong. “Apa yang saya raih ini bukanlah terlalu luar biasa. Siswa di sini kan tidak terlalu banyak. Jadi saingan saya pun lebih sedikit. Jadi bagi saya ini biasa-biasa saja,” demikian dia merendah.

Di samping juara di sekolah, beragam prestasi lainnya juga pernah diraih putri dari pasangan AA. Bagus Gede Isnawan dan Heny Sumarmi yang tinggal di Banjar Pendem, Negara ini. Gung Gek masuk posisi delapan besar dalam lomba MIPA tahun 2009 di Kecamatan Jembrana. Ia juga meraih juara harapan empat dalam olah raga bridge yang diselenggarkan SMP Swastika Karya Negara belum lama ini.

Di samping bridge, siswi teladan kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur ini sangat akrab dengan olah raga bulu tangkis. Dengan antusias dia bercerita tentang hobinya barmain bulu tangkis. “Saya seneng banget main bulu tangkis. Meskipun belum pernah ikut lomba, main bulu tangkis di rumah sama kakak aja sudah seru banget rasanya,” ceritanya dengan riang.Yuli Astari /Bali Bicara

PUTU IONA KIRAN KARTIKA


BELAJAR JADI PRESENTER

Ionna, begitu ia akrab disapa. Gadis cilik ini tiba-tiba dilibatkan dalam sebuah obrolan oleh para penonton manakala ia menjalankan tugas sebagai presenter dalam acara resepsi perpisahan dan kenaikan kelas beberapa minggu lalu di SDN 3 Dauhwaru. “Dia menjadi primadona,” celetuk salah seorang siswa seusai acara tersebut. Benarkah?

Benar saja. Ia memang terlihat cantik dan anggun, melebihi penampilannya sehari-hari. Bagaimana tidak, kecantikannya terpancar dari kebaya putih dan mahkota payasan gonjer modern yang dikenakan di kepalanya.

Tak hanya sebatas itu, warna vokalnya yang khas membuat para audience tak jemu-jemu mendengarkan. Sementara kesempatan menjadi pembawa acara itu merupakan langkah awal bagi pemilik nama lengkap Putu Ionna Kiran Kartika bila kelak ia ingin menjadi presenter profesional. “Saya bersyukur dapat dipercaya sebagai pembawa acara dalam acara ini.Ya, mudah-mudahan saja kelak saya bisa jadi presenter yang sesungguhnya,” tutur Ionna dengan senyum yang tersungging di bibir merahnya.

Buah hati tunggal pasangan I Nyoman Gde Sugiana dan Ketut Ari Astini ini telah dinobatkan sebagai bintang kelas selama enam kali berturut-turut, baik sejak ia bersekolah di SD Saraswati Tabanan hingga menamatkan pendidikannya di SD Negeri 3 Dauhwaru. Maka tak heran jika selama mengenyam pendidikan di sekolah dasar ia berhasil membukukan beberapa prestasinya. Diantaranya, sebagai juara pertama lomba siswi teladan tingkat kecamatan tahun 2009, juara pertama dan dua Lomba Darma Widya tingkat kabupaten dalam rangka Utshawa Darma Gita tahun 2008 dan 2009, dan juara harapan tiga dalam dalam lomba Olimpiade Matematika di SMP Swastika Karya.

“Semua prestasi itu saya raih ketika bersekolah di SDN 3 Dauhwaru sejak kelas IV semester pertama. Bukan apa-apa, saya memang sempat diikutkan dalam berbagai perlombaan di sekolah saya sebelumnya. Tapi, saya keburu pindah ke SDN 3 Dauhwaru. Ya, praktis saya mewakili SDN 3 Dauhwaru,” tukas kandidat pelajar SMPN 1 Negara. yuli astari/bali bicara

AGUS KARDIYASA


Belum lama ini, Agus Kardiyasa yang akrab disapa Agus menjajal sebuah kompetisi yang melibatkan segenap siswa teladan lainnya di tingkat SMA/SMK/MA atau sederajat di Kabupaten Jembrana. Ia mengaku enjoy dalam kompetisi tersebut meskipun sebelumnya sempat diterpa nervous. “Apa yang saya hadapi saat itu sempat bikin jantung ini dag dig dug. Wuah, pokoknya nervous banget. Melihat gelagak pesaing lainnya pada saat lomba itu, sepertinya mereka mampu menjawab soal-soal di luar kepala. Tapi saya berusaha tetap enjoy, menjalani apa adanya,” jawab siswa SMK Negeri 1 Negara ketika ditemui di sekolahnya di sebuah kesempatan.

Ditanya soal juara, Agus nampaknya tidak berharap banyak. “Soal pengumuman kejuaraan saya kurang tahu. Kabarnya nanti langsung disampaikan ke sekolah peserta masing-masing. Aku sich berharap pengen jadi yang terbaik saja,” sambungnya dengan senyum kecil.

Dalam berbagai hal, Agus senantiasa mengeksplor dirinya. Pendidikan Kewarganegaraan, misalnya. Siswa kelas III Jurusan Akuntansi I ini juga turut serta dalam Lomba Cerdas Cermat Kewarganegaraan atau LCC KWN dan TAP MPR tahun yang lalu. Dalam lomba itu, ia dipercaya penuh oleh pihak sekolah untuk mengemban tugas dengan menghafal dan manghayati seluruh isi buku kecil UUD 1945, baik sebelum maupun sesudah diamandemen berikut sejarah dibuatnya UUD 1945, sekaligus TAP MPR.

““Kalau menghafal UUD itu, titik komanya gak boleh dilepas. Harus sama kalimatnya. Makanya kalau mempelajari ini butuh keseriusan ekstra. Ya, setidaknya saya punya wawasan berbangsa dan bernegara. Sebagai warga negara yang baik, kita wajib menaati dan mengusai materi UUD. Minimal, pembukaannya (preambule) harus hafal. Mengusai UUD itu juga kan bisa merambah dunia hukum. Jadinya, banyak bermanfaat asalkan bisa menguasai materinya,” jelas Ketua OSIS tahun ajaran 2009/2010, yang merupakan alumni SMPN 2 Melaya.

Dibalik senyuman sumringahnya, ada secuil kisah pahit terlontar dari bibirnya. Agus mengisahkan, dirinya pernah mengalami cedera di tangan kirinya akibat kecelakaan. Ironisnya, peristiwa itu memupus harapannya mengikuti seleksi sebagai Paskibraka pada tahun 2009 tingkat Kecamatan Negara. “Ya, tangan saya ini sempat cidera. Dalam masa pemulihan, tangan kiri ini dilarang bergerak. Karena itulah saya dimaklumi untuk batal ikut seleksi itu,” kenang lelaki kelahiran 1 Maret 1993.

Putera pasangan I Ketut Badra dan I Gusti Ayu Ketut Sukerti ini juga menekuni dunia olah raga. Ketika Kelas X, dia dan grup volinya sempat mendulang prestasi dengan menyandang predikat sebagai juara 2 dalam POLRES CUP, dan beberapa ajang bola voli yang disponsori salah satu media lokal Bali.balibicara/yuliastari

AYU AGUSTINI



INGIN BELAJAR DARI GAYUS TAMBUNAN

Dia percaya, bahwa setelah lulus SMK nanti dunia kerja akan dengan mudah direngkuhnya tanpa harus melanjutkan study ke perguruan tinggi. Mimpi itu berangkat dari pemikiran bahwa bersekolah di SMK lebih menjurus pada skill atau keahlian. Dan dia percaya, jika sudah memiliki skill, maka tinggal mengasah kreatifitas, keuletan, dan kedisiplinan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Ayu, begitu teman-temannya menyapa pemilik nama lengkap Ni Komang Ayu Agustini ini. Siswi kelas XI Jurusan Akuntansi I SMK Negeri 1 Negara ini, adalah sosok gadis yang energik di balik kepolosan penampilannya. Namun siapa sangka kalau dara berzodiak Pisces ini adalah sosok yang ceriwis juga. “Ceriwis itu perlu kalo kita sedang membahas suatu masalah yang berbobot. Bicara itu bukan hanya soal mulut, tetapi juga soal isi otak,” demikian siswi teladan kelahiran 1 Maret 1993 ini berujar.

Obrolan siang itu, kami membahas soal sekolahnya yang menyandang predikat Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Sebagai siswi yang ikut mengemban predikat SBI, tentu harus diimbangi dengan perilaku yang sesuai. Dalam acara seremonial setiap hari Senin, Ayu yang menjadi kordinator kegiatan Sastra Bahasa Inggris ini turut aktif melakukan pidato Bahasa Inggris. “Setiap upacara bendera hari Senin, sekolah kami selalu diselingi dengan pidato Bahasa Inggris setelah pembacaan UUD 1945. Beda dengan sekolah lainnya yang dengan bangga menggembor-gemborkan English Day, tapi kenyataannya itu belum maksimal bahkan hanya tinggal program belaka. Meskipun kami dalam tahap belajar menerapkan Bahasa Inggris hanya pada acara seremonial saja, tapi setidaknya kan bisa dilakukan secara rutin,” demikian Ayu bangga.

Selain fasih berbahasa Inggris, alumni SMPN 1 Negara ini juga senang belajar berbahasa Jepang. Katanya, mengenal budaya Jepang tak harus pergi ke Jepang, sebab ia sudah dapat mempelajari budayanya dari sensei (guru). Tak puas belajar bahasa Jepang hanya dalam pertemuan di kelasnya saja, Ayu pun terjun dalam ekstrakurikuler Bahasa Jepang.

Ngomong-ngomong soal Jepang, apa pendapat Ayu tentang Negeri Sakura itu? “Sejauh ini saya baru sekedar tahu saja. Bahwa orang Jepang itu memiliki etos kerja dan disiplin yang tinggi, lingkungan yang bersih, ramah-tamah pula. Maka kita sebagai anak Indonesia tak salah jika belajar masalah lingkungan dari Jepang,” ungkap putri dari pasangan I Putu Winata dan Ni Wayan Budi Astuti.

Sebenarnya siswi juara satu umum di sekolahnya ini, adalah pecinta ilmu akuntansi. Dia berharap suatu saat nanti dirinya bisa meniru Gayus Tambunan. “Eit, tunggu dulu! Gayus itu cerdik, sampai-sampai bisa mempermainkan pemerintah. Tapi kalau soal korupsi, jika hasil korupsinya buat masyarakat miskin atau untuk dana sosial, ya gak apa-apalah. Makanya kalau mau korupsi, mesti konfirmasi dulu sama pemerintah, baru hasilnya dibagi-bagikan sama orang miskin. Jangan dikantongi sendiri. Hahaha…,” sifat konyol Ayu keluar lagi.balibicara/yuli astari

I KADEK YUDIASA




INGIN MENGUKIR PRESTASI MELALUI ATLETIK

Olah raga tak hanya menjadi upaya meningkatkan daya tahan tubuh. Bagi I Kadek Yudiasa, atlet peraih juara 3 dalam ajang lari 10 kilometer tingkat Kabupaten Jembrana baru-baru ini, olah raga dijadikannya sebagai ajang mengukir prestasi, sekaligus menambah prestise yang baik bagi sekolahnya di mata masyarakat. Bahkan sebelumnya, Alumni SD 1 Pendem ini juga sempat mengharumkan sekolahnya dengan meraih predikat sebagai juara lima pada ajang lari sprint 100 meter usia dini tingkat provinsi di Denpasar.

Sungguh, siswa kelas VIII A SMP Swastika Karya ini telah jatuh cinta pada dunia olah raga. Ia telah menekuni olah raga sejak kelas IV SD. Dulu, ia sering mengikuti latihan setiap Minggu di Lapangan Pecangakan Negara. “Jadi latihannya nggak sendiri. Di sana banyak ketemu teman-teman. Tapi sekarang agak jarang latihan karena sedikit sibuk dengan kegiatan di sekolah, hehee..,” katanya sambil tertawa kecil.

Meski terlihat agak pemalu, putra pasangan I Ketut Witu dan Ni Luh Ledi ini tetap bertekad mengharumkan nama sekolah melalui olah raga. “Kelak saya ingin menjadi atlet terkenal. Kalau sudah terkenal, prestise keluarga, sekolah, juga masyarakat pastilah populer juga,” tukasnya.Yuli astari / bali bicara

NI LUH GITA FEBRIANI



BERSEKOLAH SAMBIL MELESTARIKAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL

Githa! Jawaban spontan diberikan Dra. Sudarijah, Kepala SMP Swastika Karya, ketika BaliBicara menyinggung tentang murid berprestasi di sekolah tersebut. Sejurus kemudian, kami pun terlibat pembicaraan ringan dengan pemilik nama lengkap Ni Luh Githa Febriani, penyandang juara 1 umum di kelasnya.

“Sekolah kami memang berbeda dari sekolah lainnya di Jembrana. Sebab, hampir seluruh halaman sekolah ini ditanami tanaman obat tradisional. 500 jenis tanaman obat tradisional yang ada di sini sering dimanfaatkan siswa maupun warga sekitar, sesuai peruntukannya dalam menangkal berbagi macam penyakit. Untuk kalangan siswa, kami sering memanfaatkannya ketika program Jumat Ceria. Proses pembuatannya cukup unik. Awalnya tanaman jenis tertentu itu kami masak sama-sama. Kemudian, satu porsinya kami jual seharga Rp 1.000,00 kepada siswa. Terkadang juga kami berikan kepada tamu-tamu yang berkunjung ke sekolah kami,” ungkap mantan Ketua OSIS periode 2009/2010 ini.

Siswi yang baru saja lulus ujian nasional ini memang terlihat cerdas dan pandai. Ia sangat lihai memandu perjalanan mengelilingi setiap halaman sekolahnya yang dipenuhi tanaman obat tradisional. Walaupun mengaku belum pernah memanfaatkan tanaman obat karena jarang sakit, tetapi Githa merasa senang dapat belajar meramu tanaman tersebut bersama temannya.

“Ya, senang saja, menambah pengalaman dan sedikit banyak tahu tanaman obat. Awalnya ketika melihat tanaman-tanaman ini, saya mengira hanya rumput atau tanaman yang tidak ada gunanya. Tapi ternyata saya salah. Itu adalah tanaman obat tradisional yang bukan hanya mengandung khasiat untuk mengobati berbagai penyakit saja, tapi juga juga dapat dijadikan sebagai bahan makanan,” tutur dara kelahiran 10 Februari 1995 ini.

Githa menambahkan, dengan adanya tanaman obat tradisional, minimal ketersediaan obat-obatan untuk kebutuhan sekolah tercukupi. Ini juga merupakan bentuk efisiensi dalam bentuk dana. Tapi terkadang, untuk beberapa jenis tanaman tertentu, proses meramu tanaman obat tradisional ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Kalau bisa, semestinya masyarakat lebih memperhatikan tanaman alami dan berkhasiat seperti itu. Tapi untuk mewujudkannya, kita perlu melibatkan pemerintah agar masyarakat lebih peduli terhadap tanaman obat tradisional sebagai warisan leluhur kita. Ya, paling tidak menggelar lomba budidaya tanaman obat sejenis. Manfaatnya kan banyak,” ucapnya.

Remaja yang pernah menjadi juara pertama dalam ajang lomba TIK se-Kabupaten Jembrana ini juga menyalurkan rasa kepeduliannya terhadap tanaman lewat majalah sekolah. “Saya dan teman-teman pernah mengangkat tulisan seputar tanaman obat tradisional. Jadi kita tidak perlu susah payah bersosialisasi dengan bertatap muka. Cukup dengan media bacaan, kami harap para pembaca dapat lebih mengenal dan memahami tentang tanaman obat tradisional,” tukas pemimpin redaksi Majalah “MASK” dengan senyuman dikulum.

Jika sebelumnya putri pasangan I Nyoman Wardita dan Ni Luh Nurti Wiasih mengaku jarang sakit, itu lantaran ia berusaha menjaga kestabilan daya tahan tubuhnya dengan cara berolah raga. Voli adalah salah satu olah raga yang ia geluti saat ini dan telah berbuah prestasi. Bahkan beberapa waktu lalu, ia bersama tim volinya menyabet juara kedua dalam ajang O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) pada tahun 2009 di Denpasar. Yuli astari / bali bicara

I MADE GITA NARENDRA KUMARA


TEKUNI SAINT, DIPINANG KE NIGERIA
Tahun 2010 ini, boleh dikatakan sebagai tahun bersejarah bagi SMP Negeri 1 Negara. Ini kali pertama salah seorang siswanya akan berangkat ke luar negeri, tepatnya Nigeria setelah lolos seleksi untuk mengikuti International Junior Sains Olympiade (IJSO) 2010.

Siswa tersebut tiada lain adalah I Made Gita Narendra. Gita juga adalah baru satu-satunya pelajar dari Jembrana yang berhasil lolos seleksi ke ajang internasional ini. Beberapa tahun lalu, salah seorang siswa SMP N 1 Negara juga lolos seleksi untuk mengikuti event yang sama yang saat itu diselenggarakan di Jakarta.

Bagi Narendra, dunia sain telah dicintainya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat masih duduk di SDK Marsudirini, remaja kelahiran Desa Dangin Tukadaya, Jembrana ini, meraih medali perunggu dalam ajang Olympiade Sains Nasional (OSN). Setelah duduk di bangku SMP, Gita kembali meraih medali perunggu dalam OSN Bidang Fisika. “Prestasi yang belum seberapa itulah yang semakin melecut saya untuk belajar dan berusaha lebih baik,” ujar Narendra saat ditemui di sekolahnya menjelang berangkat ke Bandung mengikuti training sebelum berangkat ke Nigeria.

Ketika ditemui saat mengikuti Lomba Matematika, Sains, English (MSE) di SMA Negeri 1 Negara beberapa waktu lalu, putra kedua dari pasangan I Nengah Sugita dan Ni Made Sutiari ini, sempat bercerita tentang rahasia di balik kesuksesannya meraih banyak penghargaan di bidang sains. “Sebenarnya tidak ada rahasia khusus di balik prestasi saya ini. Hanya satu modalnya, yaitu tekun dan banyak berlatih. Saya lebih suka belajar dengan santai dan teratur, ketimbang grasa-grusu. Jika menemukan kesulitan dalam pelajaran tertentu, biasanya saya pagi-pagi langsung bertanya pada guru di sekolah,” demikian Narendra.

Ia juga menambahkan bahwa ia merasa lebih nyaman belajar sendiri di rumah ketimbang mengikuti kursus dan belajar kelompok dengan teman-temannya. Terkadang ia belajar sambil memainkan gitar kesayangannya. Dan dalam musik pun remaja pecinta musik beraliran rock ini tidak tanggung-tanggung. Terbukti Narendra yang lahir 14 Maret 1996 ini memegang posisi sebagai gitaris dalam kelompok band sekolahnya, “Spentura”. Narendra juga sempat membawa kelompok band sekolahnya meraih Juara Harapan I dalam lomba band tingkat Kabupaten Jembrana belum lama ini.

Di samping bermain musik, pelajar yang tergolong tingkat jenius dengan IQ mencapai 149 ini juga mengaku memiliki hobi sampingan, yaitu permainan rubiks. “Hanya untuk mengisi waktu senggang,” katanya.balibicara /yuli astari

AYU SURYANTINI




DALAM PENCARIAN BALI SEJATI

Bahwa tidak semua remaja di Bali bisa aktif di dalam melestarikan budaya Bali itu sendiri. Tentu banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Bahwa seperti kita ketahui dan rasakan sekarang ini, kehidupan remaja sebagian besar dihabiskan oleh jam-jam sekolah. Lebih-lebih sejak diberlakukannya ujian nasional (UN), maka kehidupan remaja pun seolah tersandera sepenuhnya oleh kurikulum dan mata pelajaran dalam kelas.

Tetapi bagaimana pun, toh ada saja segelintir remaja yang punya kemampuan lebih untuk menyiasati sitauai. Ni Made Ayu Suryantini misalnya, remaja ini mampu menyiasati waktu antara sekolah dengan berbagai kegiatan di luar sekolah secara seimbang. “Belakangan ini masyarakat Bali begitu latah dengan istilah Ajeg Bali dan berbagai sebutan eksotik lainnya untuk Bali. Tetapi pada saat yang sama kita merasakan bahwa Bali sebenarnya semakin kering dan gersang. Kenapa? Yak karena kita sebagai warga Bali telah mengabaikan sendi-sendi kehidupan Bali itu sendiri,” ujar Ayu dalam sebuah obrolan dengan Bali Bicara.

Apa yang dimaksud Ayu tersebut tiada lain adalah semakin tercerabutnya kehidupan generasi muda Bali dari akar budaya lokal. “Ini bukan sepenuhnya kesalahan para remaja itu sendiri, tetapi karena generasi tua juga telah menutup kesempatan bagi remaja untuk mengambil peran dalam melestarikan budaya Bali. Salah satu kesalahan fatal itu adalah terlalu padatnya kurikulum sekolah yang harus dijalani para remaja. Hal inilah yang menghambat para remaja untuk dapat berperan aktif dalam berbagai upaya pelestarian budaya lokal dan lingkungan. Jadi sekali lagi, jangan kaget kalau akhirnya kita mendapatkan betapa keringnya Bali saat ini,” tegas Ayu.

Kesadaran akan situasi inilah kemudian yang membawa remaja kelahiran 10 Juni 1993 ini, untuk tidak berdiam diri saja. Ayu adalah salah satu dari segelintir remaja yang aktif dan eksis berkiprah dalam pelestarian warisan leluhur budaya pulau seribu pura ini. Siswi kelas XI IPA 1 di SMAN 1 Negara ini pun telah banyak memberikan kontribusi untuk Jembrana dengan predikat juara pertama dalam berbagai lomba di bidang seni budaya tingkat provinsi. Bahkan Ayu telah tiga kali berturut-turut menjadi Duta Bumi Makepung dalam ajang Mapidarta Basa Bali pada Pesta Kesenian Bali.

Tetapi seperti penuturan Ayu, peran aktif remaja Bali untuk melestarikan budaya tentu saja tidak cukup hanya dengan mengikuti lomba-lomba seperti itu. “Yang terpenting adalah, remaja harus berani dan mampu berbuat bagi lingkungannya. Pengertian lingkungan itu bukan hanya sebatas alam sekitar, tetapi tradisi, budaya dan bahkan estetika yang ada di sekitar kita. Di sanalah kita harus berperan nyata,” demikian Ayu menutup obrolan.balibicara/yuli astari